Wahai
tuan, kebaikan bagiku bukan persekongkolan tiap rupa keburukan, juga bukan
perkara-perkara yang semuanya selesai dengan uang.
Satu
pertanyaan kecil namun cukup mengganjal serabut pikiran tiap diri yaitu; mengapa
tak ingin untuk menerima sebuah kenyataan bahwa dendam terbesar dalam diri
adalah ke(tidak)mampuan memaafkan laku diri di masalalu. Pertanyaan itu
akhirnya tak pernah jadi masalah, karena senantiasa terjerembab dalam banalitas
keseharian. Kemudian semuanya tidak akan menjadi pertanyaan yang besar, takala
manusia belajar tentang kebaikan dan kejahatan, karena manusia menjadi setara
dengan Tuhan. Namun sebelum manusia menjelma tuhan yang menghapus segala tanya,
manusia mesti berlayar mengarungi samudra dendam.
Sahdan,
dendam bermula ketika Dewa Penguasa Waktu—dalam tradisi Persia kuno—merasa
kesepian berada di semesta yang diciptakannya. Dia meratapi dirinya, lantas dihamililah
dirinya pula, tentu tak ada yang menghamili karena dewa itu adalah penguasa tunggal
semesta. Alhasil, terdapatlah janin dalam dirinya, akan tetapi karena dia
meratapi kesepiannya terlalu jauh, tiba-tiba janin itu membelah menjadi dua.
Lahirlah Ormuzd (jelmaan kebaikan), dan Ahriman (jelmaan kejahatan), mereka
adalah dewa yang kelak mewariskan sifat-sifatnya kepada manusia.
Dendam
bermula bukan karena lahirnya Ahriman, tapi karena ratapan dari Dewa Penguasa
Waktu itu sendiri. Dia terlalu pengecut untuk berada di alam semesta sendirian.
Dia terlanjur kuasa untuk semuanya, saking dia kuasa maka dia tidak kuasa untuk
menaklukan kesunyiannya sendiri. Ketakutan akan kehilangan kekuasaannya, maka
dengan berbagai cara Dewa Penguasa Waktu mesti menghentikan tindakan Ahriman. Lantas
diciptakanlah manusia untuk mendukung Ormuzd. Tapi, gurindam waktu berkata
lain, manusia yang diciptakan untuk mendukung kebaikan malah beralihrupa
menjelma sekutu Ahriman.
Dewa
Penguasa Waktu merasa berdosa pada dirinya sendiri, dan mengkristalkan rasa
bersalahnya itu menjadi sebutir dendam yang ditanamkan pada hati manusia.
Manusia lantas memikul dendam dalam hidupnya karena kejatuhan rasa bersalah
dari Dewa Penguasa Waktu. Ahriman sebagai dewa kejahatan kian jumawa, karena
dia mampu mengendalikan sekutu dari Ormuzd.
Cerita
di muka sudah begitu purba serta usang dan (mungkin) tidak ada hubungannya
dengan keberadaan manusia hari ini. Manusia, baik mengenal dewa ataupun tidak, bertuhan
ataupun tidak, senantiasa berada dalam labirin dendam. Karena dendam bukan suatu
keadaan yang nista. Keadaan itu menuntut manusia untuk memikul beban lebih dari
mahluk lain yang hanya berada dalam perkara makan dan pemenuhan sex saja, atau
seperti dewa yang selalu ada dalam kecukupan. Manusia menjadi unggul dari
mahluk apapun karena memiliki dendam, kekecewaan, kejahatan, sakit hati dan
yang lainnya. Hal ini tentulah mesti dipelihara. Karena hal seperti itu
menciptakan mahluk yang hebat, yang mampu mencerap kebohongan dengan
penciumannya, atau memaknai berbagai hal dengan indera perasa.
Pengharapan
Ormuzd akan manusia menjadi baik merupakan sejenis kekonyolan yang dahsyat.
Kebaikan, filsafat, agama, dan jenis alat pembodoh lainnya yang ada di muka
bumi adalah racun yang mengekang struktur kemampuan manusia yang paling asali:
dendam. Ke(tidak)berdayaan memaafkan masalalu membuat manusia menjadi lebih
kreatif untuk hal-hal tertentu. Berbagai cara biasanya dilakukan untuk menutupi
ke(tidak)berdayaan memaafkan masalalu itu dengan tindakan yang menjadikan hidup
lebih berarti. Memang ada sebuah kesalahan dalam cara mengurai masalalunya itu
dengan tindakan yang berarti. Akantetapi hal ini bukanlah sesuatu yang baik,
karena dalam dirinya menjadi imun untuk menatap kesekarangan.
Kemampuan
manusia memelihara dendam adalah sejenis semangat yang membuat seseorang atau
sekelompok orang menjelma lebih dari sekedar onggokan daging yang hanya
terprogram untuk kerja, seks dan tidur saja. dendam sangat dibutuhkan agar
seseorang mampu meledakkan tiap batas kemampuan manusia.
Adalah
V dalam film Vendeta yang dalam pergumulan setiap nanodetiknya memelihara
dendam. Hal ini yang menjadikannya mampu bertahan dalam kesusahan dan bisa
mengubah sederet nyeri menjadi segudang dinamit yang mampu meledakkan jiwa tiap
orang yang bersinggungan dengannya. V tentu hanyalah sosok manusia biasa, yang
membedakannya hanya topeng lucu, jubah hitam, topi, dan mesin dendam dalam
tubuhnya. Hal ini jadi sangat berarti, karena dengan itu seseorang punya
sejenis semangat untuk hidup.
Kemampuan
yang dimiliki V memang sama saja dengan kita. Namun yang membedakannya adalah V
tidak memaafkan masalalu. Dia menyimpan ingatannya agar kelak bisa meledak
bersamaan dengan berbagai dendamnya. Apakah salah atau tidak, pantas atau
tidak, yang pasti dendam bagi V harus dipelihara agar dia bisa tetap hidup
dalam ingatan tiap manusia.
Jika
kita berkaca pada V, mungkin akan ditemukan perbedaan yang cukup nyata.
Pertama, kita tidak punya cukup dendam untuk memperbaiki keadaan. Kedua,
kemanusiaan kita yang lembek menjadikan kita hanya mampu berpikir sebatas
apa-apa yang untung bagi kita. Berbagai cara dilakukan, tiap rupa keburukan
dijalankan agar dapat selembar atau dua lembar kertas yang didewakan. Ketiga,
kehilangan kesiapan untuk menjadi manusia. Hal ini yang menjadikan (mungkin) kau
dan aku memiliki perbedaan yang cukup curam dengan V.
Dengan menggembalakan dendam dalam diri,
semestinya manusia bisa menjadi sejenis banjir bandang yang membuat orang tetap
resah, waspada, dan tidak terlena dengan keadaannya. Keadaan seperti itu cukup
berharga bagi manusia, selain membuat dia waspada duapuluhlima jam sehari,
manusia pun layak menyombongkan dirinya sebagai manusia karena akan selalu
menyadari batas: kematian.
Perasaan
dendam mengingatkan manusia pada kematian. Saat menyadari mati, manusia mesti
dengan sigap menuntaskan dendamnya. Dengan kematian juga manusia menjadi cukup
berharga, karena dengan kematian bisa merasakan apa artinya kebahagiaan. Hal
itu yang membuat semua dewa di Oracle menjadi iri pada manusia, karena
keabadian membuat dewa tidak bahagia. Dendam yang membuat manusia menjadi lebih
dari sekedar dewa.
Kematian
mengajarkan manusia akan kesunyian, karena teman sejati pastilah sunyi. Namun
kesunyian akan kurang memiliki makna, jika menjalani hari-hari sunyi itu belum
dilanda badai dendam. Ya, tak ada yang lebih mengerikan, sekaligus cukup
berharga untuk melalui perjalanan meditatif harian selain dendam.
Manusia
mesti merumuskan dirinya dari dendam pada masalalunya. Pada
kekecewaan-kekecewaannya. Pada tiap luka yang membuat ingatan tak segera
lunglai. Perjalanan mengingat masalalu tentang berbagai hal yang semuanya akan
mewarisi atau menciptakan dendam menciptakan kelayakan di depan mata kehilangan
makna. Dendam mesti membuat segalanya hancur. Tak ada kemapanan dan
keistimewaan. Dendam senantiasa mengarahkan pada ambang, dimana liminalitas
kebaikan jadi kehilangan peran.
Jika
Dewa Penguasa Waktu membebankan semua penyesalan dan dendamnya pada manusia,
membuat dia sebagai dewa menjadi tidak berharga. Sudah tentu itu hanya sebuah
ketakberdayaan seorang dewa pada apa yang bisa dikehendakinya. Dewa menjadi
tidak berarti apa-apa. Dendam yang dilimpahkan pada manusia itu mampu digubah
oleh manusia menjadi sesuatu yang cukup berharga dan penuh makna. Dendam itu
bisa menciptakan manusia sejenis V, yang hidupnya mesti tidak berurusan dengan
perkara ke(tidak)mampuan memaafkan laku diri di masalalu saja, tetapi
ketidakmampuannya itu menjadi pemompa agar kesekarangan lebih berharga dan
bermakna. Adakah dendam yang tidak baik? Dalam dendam, tiap orang pasti
berpikir untuk bisa melacuri dendamnya. Jika manusia telah kehilangan dendam
sebagai alat untuk meledakan potensi hidupnya, maka dia bukan manusia: dia
adalah sejenis tuhan yang kerdil, atau dewa yang kehilangan pemujanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar