Pengunjung

Jumat, 26 April 2013

Ormuzd, Ahriman, V : Sebuah Perjalanan.



Wahai tuan, kebaikan bagiku bukan persekongkolan tiap rupa keburukan, juga bukan perkara-perkara yang semuanya selesai dengan uang.

Satu pertanyaan kecil namun cukup mengganjal serabut pikiran tiap diri yaitu; mengapa tak ingin untuk menerima sebuah kenyataan bahwa dendam terbesar dalam diri adalah ke(tidak)mampuan memaafkan laku diri di masalalu. Pertanyaan itu akhirnya tak pernah jadi masalah, karena senantiasa terjerembab dalam banalitas keseharian. Kemudian semuanya tidak akan menjadi pertanyaan yang besar, takala manusia belajar tentang kebaikan dan kejahatan, karena manusia menjadi setara dengan Tuhan. Namun sebelum manusia menjelma tuhan yang menghapus segala tanya, manusia mesti berlayar mengarungi samudra dendam.

Sahdan, dendam bermula ketika Dewa Penguasa Waktu—dalam tradisi Persia kuno—merasa kesepian berada di semesta yang diciptakannya. Dia meratapi dirinya, lantas dihamililah dirinya pula, tentu tak ada yang menghamili karena dewa itu adalah penguasa tunggal semesta. Alhasil, terdapatlah janin dalam dirinya, akan tetapi karena dia meratapi kesepiannya terlalu jauh, tiba-tiba janin itu membelah menjadi dua. Lahirlah Ormuzd (jelmaan kebaikan), dan Ahriman (jelmaan kejahatan), mereka adalah dewa yang kelak mewariskan sifat-sifatnya kepada manusia.
Dendam bermula bukan karena lahirnya Ahriman, tapi karena ratapan dari Dewa Penguasa Waktu itu sendiri. Dia terlalu pengecut untuk berada di alam semesta sendirian. Dia terlanjur kuasa untuk semuanya, saking dia kuasa maka dia tidak kuasa untuk menaklukan kesunyiannya sendiri. Ketakutan akan kehilangan kekuasaannya, maka dengan berbagai cara Dewa Penguasa Waktu mesti menghentikan tindakan Ahriman. Lantas diciptakanlah manusia untuk mendukung Ormuzd. Tapi, gurindam waktu berkata lain, manusia yang diciptakan untuk mendukung kebaikan malah beralihrupa menjelma sekutu Ahriman.
Dewa Penguasa Waktu merasa berdosa pada dirinya sendiri, dan mengkristalkan rasa bersalahnya itu menjadi sebutir dendam yang ditanamkan pada hati manusia. Manusia lantas memikul dendam dalam hidupnya karena kejatuhan rasa bersalah dari Dewa Penguasa Waktu. Ahriman sebagai dewa kejahatan kian jumawa, karena dia mampu mengendalikan sekutu dari Ormuzd.
Cerita di muka sudah begitu purba serta usang dan (mungkin) tidak ada hubungannya dengan keberadaan manusia hari ini. Manusia, baik mengenal dewa ataupun tidak, bertuhan ataupun tidak, senantiasa berada dalam labirin dendam. Karena dendam bukan suatu keadaan yang nista. Keadaan itu menuntut manusia untuk memikul beban lebih dari mahluk lain yang hanya berada dalam perkara makan dan pemenuhan sex saja, atau seperti dewa yang selalu ada dalam kecukupan. Manusia menjadi unggul dari mahluk apapun karena memiliki dendam, kekecewaan, kejahatan, sakit hati dan yang lainnya. Hal ini tentulah mesti dipelihara. Karena hal seperti itu menciptakan mahluk yang hebat, yang mampu mencerap kebohongan dengan penciumannya, atau memaknai berbagai hal dengan indera perasa.
Pengharapan Ormuzd akan manusia menjadi baik merupakan sejenis kekonyolan yang dahsyat. Kebaikan, filsafat, agama, dan jenis alat pembodoh lainnya yang ada di muka bumi adalah racun yang mengekang struktur kemampuan manusia yang paling asali: dendam. Ke(tidak)berdayaan memaafkan masalalu membuat manusia menjadi lebih kreatif untuk hal-hal tertentu. Berbagai cara biasanya dilakukan untuk menutupi ke(tidak)berdayaan memaafkan masalalu itu dengan tindakan yang menjadikan hidup lebih berarti. Memang ada sebuah kesalahan dalam cara mengurai masalalunya itu dengan tindakan yang berarti. Akantetapi hal ini bukanlah sesuatu yang baik, karena dalam dirinya menjadi imun untuk menatap kesekarangan.
Kemampuan manusia memelihara dendam adalah sejenis semangat yang membuat seseorang atau sekelompok orang menjelma lebih dari sekedar onggokan daging yang hanya terprogram untuk kerja, seks dan tidur saja. dendam sangat dibutuhkan agar seseorang mampu meledakkan tiap batas kemampuan manusia.
Adalah V dalam film Vendeta yang dalam pergumulan setiap nanodetiknya memelihara dendam. Hal ini yang menjadikannya mampu bertahan dalam kesusahan dan bisa mengubah sederet nyeri menjadi segudang dinamit yang mampu meledakkan jiwa tiap orang yang bersinggungan dengannya. V tentu hanyalah sosok manusia biasa, yang membedakannya hanya topeng lucu, jubah hitam, topi, dan mesin dendam dalam tubuhnya. Hal ini jadi sangat berarti, karena dengan itu seseorang punya sejenis semangat untuk hidup.
Kemampuan yang dimiliki V memang sama saja dengan kita. Namun yang membedakannya adalah V tidak memaafkan masalalu. Dia menyimpan ingatannya agar kelak bisa meledak bersamaan dengan berbagai dendamnya. Apakah salah atau tidak, pantas atau tidak, yang pasti dendam bagi V harus dipelihara agar dia bisa tetap hidup dalam ingatan tiap manusia.
Jika kita berkaca pada V, mungkin akan ditemukan perbedaan yang cukup nyata. Pertama, kita tidak punya cukup dendam untuk memperbaiki keadaan. Kedua, kemanusiaan kita yang lembek menjadikan kita hanya mampu berpikir sebatas apa-apa yang untung bagi kita. Berbagai cara dilakukan, tiap rupa keburukan dijalankan agar dapat selembar atau dua lembar kertas yang didewakan. Ketiga, kehilangan kesiapan untuk menjadi manusia. Hal ini yang menjadikan (mungkin) kau dan aku memiliki perbedaan yang cukup curam dengan V.
 Dengan menggembalakan dendam dalam diri, semestinya manusia bisa menjadi sejenis banjir bandang yang membuat orang tetap resah, waspada, dan tidak terlena dengan keadaannya. Keadaan seperti itu cukup berharga bagi manusia, selain membuat dia waspada duapuluhlima jam sehari, manusia pun layak menyombongkan dirinya sebagai manusia karena akan selalu menyadari batas: kematian.
Perasaan dendam mengingatkan manusia pada kematian. Saat menyadari mati, manusia mesti dengan sigap menuntaskan dendamnya. Dengan kematian juga manusia menjadi cukup berharga, karena dengan kematian bisa merasakan apa artinya kebahagiaan. Hal itu yang membuat semua dewa di Oracle menjadi iri pada manusia, karena keabadian membuat dewa tidak bahagia. Dendam yang membuat manusia menjadi lebih dari sekedar dewa.
Kematian mengajarkan manusia akan kesunyian, karena teman sejati pastilah sunyi. Namun kesunyian akan kurang memiliki makna, jika menjalani hari-hari sunyi itu belum dilanda badai dendam. Ya, tak ada yang lebih mengerikan, sekaligus cukup berharga untuk melalui perjalanan meditatif harian selain dendam.
Manusia mesti merumuskan dirinya dari dendam pada masalalunya. Pada kekecewaan-kekecewaannya. Pada tiap luka yang membuat ingatan tak segera lunglai. Perjalanan mengingat masalalu tentang berbagai hal yang semuanya akan mewarisi atau menciptakan dendam menciptakan kelayakan di depan mata kehilangan makna. Dendam mesti membuat segalanya hancur. Tak ada kemapanan dan keistimewaan. Dendam senantiasa mengarahkan pada ambang, dimana liminalitas kebaikan jadi kehilangan peran.
Jika Dewa Penguasa Waktu membebankan semua penyesalan dan dendamnya pada manusia, membuat dia sebagai dewa menjadi tidak berharga. Sudah tentu itu hanya sebuah ketakberdayaan seorang dewa pada apa yang bisa dikehendakinya. Dewa menjadi tidak berarti apa-apa. Dendam yang dilimpahkan pada manusia itu mampu digubah oleh manusia menjadi sesuatu yang cukup berharga dan penuh makna. Dendam itu bisa menciptakan manusia sejenis V, yang hidupnya mesti tidak berurusan dengan perkara ke(tidak)mampuan memaafkan laku diri di masalalu saja, tetapi ketidakmampuannya itu menjadi pemompa agar kesekarangan lebih berharga dan bermakna. Adakah dendam yang tidak baik? Dalam dendam, tiap orang pasti berpikir untuk bisa melacuri dendamnya. Jika manusia telah kehilangan dendam sebagai alat untuk meledakan potensi hidupnya, maka dia bukan manusia: dia adalah sejenis tuhan yang kerdil, atau dewa yang kehilangan pemujanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar