Pengunjung

Kamis, 11 April 2013

iman jenis apa?



Iman macam apa yang kau miliki, sehingga kau begitu kuasa untuk mengusir kami di rumah tuhan.
Iman macam apa yang kau miliki? Saat hujan kian besar, kau begitu bangga menyaksikan kami kuyup sedang kau berada di dalam sambil menyebut nama tuhanmu dengan keras.

Iman jenis apa yang kau cangkokkan di hatimu? Kau terlihat begitu nyaman dengan baju yang berlapis, sedang kami menggunakan baju tipis yang lusuh dan hanya baju itu yang kami miliki. Iman macam apa yang kau miliki, saat kami kian gigil kau malah menutup pintu rumah tuhan, yang sebagian dari kami pun sama menyembahnya.
Iman macam apa yang kau miliki? Kau merasa semakin bangga saat berada di dalam rumah tuhan, dan kau melarang kami masuk hanya karena kami lusuh dan menurut kau kami akan mengotori rumah tuhan.
Iman macam apa yang kau miliki, kau merasa memiliki tuhan dengan menghias rumah tuhan demikian gemerlap, dengan kerlip sapir, rubi yang dipahat di atas mimbar, dan memberikan lampu yang luar biasa mahal, sedang kami hanya bisa sayup-sayup menikmati cahayanya.
Iman macam apa yang kau miliki, kau memberikan permadani termahal untuk beribadah, sedang kami hanya bisa menatapnya dari jauh. Saat kami masuk ke dalam melakukan sembahyang dan tiduran, cuma butuh waktu 5 menit kau mengusir kami dengan berkata, “tempat ini hanya untuk orang suci dan bersih. Tidak digunakan untuk tiduran pula”. Apakah kau tidak pernah melihat saat kami tertidur hanya bertikar selembar kardus dengan gigitan nyamuk yang tak pernah kami rasa, beratap langit dan angin yang membawa polusi dari kendaraan.
Iman macam apa yang kau jalani, kau berkoar tentang indahnya berbagi, sedang kami hanya makan nasi bungkus sisa yang diambil dari tong sampah. Iman macam apa yang kau hayati, kau begitu adil berbagi ke sesama jamaah di dalam mesjid, sedang kami yang tak punya sehelai baju pun selain yang kami pakai.
Iman macam apa yang kau miliki, kau begitu bangga menulis tentang kebijaksanaan dan berpetuah bijak, sedang kau mengukur kami dengan pikiran-pikiranmu. Lantas kami bertanya, dimana kita sebagai mahluk yang mewarisi sifat-sifat tuhan.
Iman macam apa yang kau hayati, dengan ayat-ayat tuhan kau melakukan ketidakadilan dengan mengawini banyak perempuan, dan menggunakan petuah nabi agar lantas kau disebut sebagai pengikut nabi yang sejati. Lantas kami bertanya, apakah kau terlahir dari rahim batu dan diberi susu oleh sesosok entah yang mengajarkan untuk berbuat seperti keji?
Iman macam apa yang kau miliki, hujan kian deras dan lutut kami sudah terendam banjir, kau sembari memalingkan wajah mengunci rumah tuhan agar tak kena banjir. Kami bertanya suatu ketika, “begitu najis kah kami sehingga kau sangat sinis?”
Iman macam apa yang kau miliki? Semakin rinci aku melihatmu, semakin tahu bahwa kau adalah aku. Yang bangga melihat orang-orang di luar dengan laparnya, sedang aku kian menambah ukuran celana tiap bulannya.

20.12.12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar