Puan, jarak yang tak pernah bisa kita tempuh adalah
kenangan. Hari-hari pudar,
hanya sesekali kita menengoknya sekedar memilih dahan kokoh untuk dijadikan pegangan.
Kita punya ribuan langkah yang cukup terencana untuk ditapaki. Namun, kita memilih
satu langkah hanya untuk saling bertukar tatap terakhir.
hanya sesekali kita menengoknya sekedar memilih dahan kokoh untuk dijadikan pegangan.
Kita punya ribuan langkah yang cukup terencana untuk ditapaki. Namun, kita memilih
satu langkah hanya untuk saling bertukar tatap terakhir.
Puan, kita selalu percaya bahwa air hujan akan selalu
kenbali ke muara. Di sana,
harapan-harapan yang masam, berpolutan, kembali menjadi asin lautan. Kau pernah bertanya,
apakah hati adalah samudra dimana tiap harapan bernaung? Aku gagu.
Puan, jarak yang selalu bisa kita tempuh adalah sebentang harapan.
harapan-harapan yang masam, berpolutan, kembali menjadi asin lautan. Kau pernah bertanya,
apakah hati adalah samudra dimana tiap harapan bernaung? Aku gagu.
Puan, jarak yang selalu bisa kita tempuh adalah sebentang harapan.
Puan, sekarang kita berada di jalanan. tak ada sajak-sajak
liris yang mencatat
mawar tubuhmu. Anak-anak yang bersikutan di tempat sampah ketika jam sekolah
selalu lebih membuatku tersiksa. puan, jangan sesekali memberi uang pada
mereka dari sisa kenyang kita.
mawar tubuhmu. Anak-anak yang bersikutan di tempat sampah ketika jam sekolah
selalu lebih membuatku tersiksa. puan, jangan sesekali memberi uang pada
mereka dari sisa kenyang kita.
Puan mari kita terus berjalan. Satu langkah kita masih kurang
untuk menebus
kebaikan yang datang setiap detik. Puan, jarak yang membuat kita bertahan
adalah kematian.
kebaikan yang datang setiap detik. Puan, jarak yang membuat kita bertahan
adalah kematian.
04/04/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar