Kamis, 04 April 2013

Telapak Tangan

garis-garis itu tidak pernah lurus
hanya keyakinan yang menjadikannya bagus


lantas berulangkali kau menendangku
dari beribu kesangsian yang menggerus

kita pernah saling meramal
“kau akan menetap di Armenia”
ucapmu setelah menggenggam jemariku

namun takpernah kuucap ramalanku tentangmu
kau takpernah menatap bumi sejak lahir
kau tukar matamu untukku

“apa yang kau lihat dari telapak tanganku”
aku takjawab apa-apa
“apakah aku akan selamanya di kota ini”
tanyamu kembali

‘kita terlahir dari keyakian
dan hidup selalu memberi kemungkinan’
kutemukan itu di telapak tanganmu
/02.2013/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar