Iman macam apa yang kau miliki,
sehingga kau begitu kuasa untuk mengusir kami di rumah tuhan.
Iman macam apa yang kau miliki? Saat
hujan kian besar, kau begitu bangga menyaksikan kami kuyup sedang kau berada di
dalam sambil menyebut nama tuhanmu dengan keras.
Iman jenis apa yang kau cangkokkan
di hatimu? Kau terlihat begitu nyaman dengan baju yang berlapis, sedang kami
menggunakan baju tipis yang lusuh dan hanya baju itu yang kami miliki. Iman
macam apa yang kau miliki, saat kami kian gigil kau malah menutup pintu rumah
tuhan, yang sebagian dari kami pun sama menyembahnya.
Iman macam apa yang kau miliki? Kau
merasa semakin bangga saat berada di dalam rumah tuhan, dan kau melarang kami masuk
hanya karena kami lusuh dan menurut kau kami akan mengotori rumah tuhan.
Iman macam apa yang kau miliki, kau
merasa memiliki tuhan dengan menghias rumah tuhan demikian gemerlap, dengan
kerlip sapir, rubi yang dipahat di atas mimbar, dan memberikan lampu yang luar
biasa mahal, sedang kami hanya bisa sayup-sayup menikmati cahayanya.
Iman macam apa yang kau miliki, kau
memberikan permadani termahal untuk beribadah, sedang kami hanya bisa
menatapnya dari jauh. Saat kami masuk ke dalam melakukan sembahyang dan
tiduran, cuma butuh waktu 5 menit kau mengusir kami dengan berkata, “tempat ini
hanya untuk orang suci dan bersih. Tidak digunakan untuk tiduran pula”. Apakah
kau tidak pernah melihat saat kami tertidur hanya bertikar selembar kardus dengan
gigitan nyamuk yang tak pernah kami rasa, beratap langit dan angin yang membawa
polusi dari kendaraan.
Iman macam apa yang kau jalani, kau
berkoar tentang indahnya berbagi, sedang kami hanya makan nasi bungkus sisa
yang diambil dari tong sampah. Iman macam apa yang kau hayati, kau begitu adil
berbagi ke sesama jamaah di dalam mesjid, sedang kami yang tak punya sehelai
baju pun selain yang kami pakai.
Iman macam apa yang kau miliki, kau
begitu bangga menulis tentang kebijaksanaan dan berpetuah bijak, sedang kau mengukur
kami dengan pikiran-pikiranmu. Lantas kami bertanya, dimana kita sebagai mahluk
yang mewarisi sifat-sifat tuhan.
Iman macam apa yang kau hayati,
dengan ayat-ayat tuhan kau melakukan ketidakadilan dengan mengawini banyak
perempuan, dan menggunakan petuah nabi agar lantas kau disebut sebagai pengikut
nabi yang sejati. Lantas kami bertanya, apakah kau terlahir dari rahim batu dan
diberi susu oleh sesosok entah yang mengajarkan untuk berbuat seperti keji?
Iman macam apa yang kau miliki,
hujan kian deras dan lutut kami sudah terendam banjir, kau sembari memalingkan
wajah mengunci rumah tuhan agar tak kena banjir. Kami bertanya suatu ketika, “begitu
najis kah kami sehingga kau sangat sinis?”
Iman macam apa yang kau miliki?
Semakin rinci aku melihatmu, semakin tahu bahwa kau adalah aku. Yang bangga
melihat orang-orang di luar dengan laparnya, sedang aku kian menambah ukuran
celana tiap bulannya.
20.12.12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar